Soekarno, Blitar dan Kelud
Penoelis Editor keloed, kelud, Riwajat, soekarno, Soekarnoisme, Tjerita Selasa, Juni 14, 2011
Nukilan Amanat Paduka Yang Mulia Soekarno pada Musyawarah Nasional Teknik di Istana Olah Rraga Senayan, Jakarta, 30 September 1965.
Aku ceritakan kepadamu, he saudara-saudara, satu contoh kataku, beberapa tahun yang lalu atau beberapa puluh tahun yang lalu, ada bagian alam di Jawa Timur yang selalu membikin susah kepada kita. Yang aku maksudkan ialah Gunung Kelud, utara dari Blitar, di lor-nya Blitar ada gunung api yang namanya Gunung Kelud.
Ini Gunung Kelud bukan main gunung yang nakal sekali. Boleh dikatakan, tiap-tiap 18 tahun sekali, tiap 20 tahun sekali, dia meledak. Dan jikalau meledak, dia membuat mendidih air dalam telaga yang dekat kawah Gunung Kelud itu. Sini kawah apinya, di sebelah kawah api itu ada telaga, telaga penuh dengan air.
Kalau ini kawah api sedang meledak, artinya sedang berapi, sang api ini membuat air di dalam telaga itu mendidih dan meluap-luap, sehingga air ini lantas keluar daripada telaga, tumpah, turun ke bawah, menjadi apa yang dinamakan lahar panas.
Dari puncak Gunung Kelud ke bawah dengan kecepatan yang lebih cepat daripada kereta api, saudara-saudara. Menghanyutkan desa-desa, rumah-rumah, manusia-manusia, kerbau, sapi, kambing, ayam, hancur, sama sekali hancur, terhanyut oleh lahar panas ini. Dan itu terjadi boleh dikatakan tiap-tiap 18, 19, 20 tahun, 21 tahun.
Kewajiban kita untuk menundukkan alam ini, jangan sang Gunung Kelud ini selalu menjadi musuh kita yang membikin mati daripada kita, menghancurkan desa-desa kita, menghancurkan ternak kita. Otak insinyur bekerja, saudara-saudara. Bagaimana?
Otak insinyur berkata, ini lahar, namanya lahar. Air mendidih yang dari puncak Kelud turun ke bawah. Lahar ini keluar dari telaga. Telaga ini mendidik dan meluap-luap karena kepanasan api yang keluar dari kawah Kelud. Jadi kalau umpamanya tidak ada telaga ini, tidak akan ada lahar. Pikirian insyinur begitu. Ini air ini harus dikeluarkan, harus dibuang, supaya kalau api keluar, dia tidak mendidih, dia tidak meluap-luap, dia tidak membikin celaka kepada manusia di lereng gunung itu.
Apa daya. Gambang buat insyinur. Insinyur membuat terowongan, dibor, saudara-saudara. Telaga itu tentu mempunyai, apa itu, mempunyai tebing-tebing, mempunyai wadah air itu, seperti periuk, saudara-saudara. Ini dibor, dibor dengan terowongan, bahasa asingnya canal. Sehingga lantas air ini keluar dari canal, terowongan ini, terbuang. Sehingga, telaga ini boleh dikatakan hampir kosong, tinggal sedikit.
Nah, ternyata di dalam tahun 1953, tatkala di dalam tahun 1953 itu buat kesekian kalinya Gunung Kelud meledak, api muncrat-muncrat, tetapi kaena telaga ini kosong atau hampir kosong, tidak terjadi lahar. Dan di dalam peledakan Gunung Kelud tahun 1953 itu hanya 7 orang manusia mati.
Dulunya, saya mengalami sendiri, tahun 1919, yang mati berapa? Satu kali lahar turun itu, 6.700 manusia, sekian ribu kerbau, sekian ribu sapi, sekian ribu kambing, sekian ribu rumah, hancur-lebur sama sekali, dan sekian ribu hektar sawah tidak bisa ditanami lagi. Karena sang sawah yang tadinya tanahnya tanah subur, sesudah dilanda oleh lahar itu, sang sawah ini kemudian tertutup pasir yang lebih tebal dari setengah meter.
Sekarang sesudah otak teknik mengebor telaga ini, saudara-saudara, bahaya lahar boleh dibilang hilang sama sekali. Nah, ini adalah salah satu perjuangan kita. Perjuangan kita menundukkan alam, alam, Gunung kelud, tidak menjadi bahaya lagi bagi kita.
Sumber: Revolusi Belum Selesai, Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965 - Pelengkap Nawaksara, 2005
![]() |
| Amuk Kelud, November 2007 by VolcanoDiscovery |
Ini Gunung Kelud bukan main gunung yang nakal sekali. Boleh dikatakan, tiap-tiap 18 tahun sekali, tiap 20 tahun sekali, dia meledak. Dan jikalau meledak, dia membuat mendidih air dalam telaga yang dekat kawah Gunung Kelud itu. Sini kawah apinya, di sebelah kawah api itu ada telaga, telaga penuh dengan air.
Kalau ini kawah api sedang meledak, artinya sedang berapi, sang api ini membuat air di dalam telaga itu mendidih dan meluap-luap, sehingga air ini lantas keluar daripada telaga, tumpah, turun ke bawah, menjadi apa yang dinamakan lahar panas.
![]() |
| Amuk Kelud, November 2007 by VolcanoDiscovery |
Kewajiban kita untuk menundukkan alam ini, jangan sang Gunung Kelud ini selalu menjadi musuh kita yang membikin mati daripada kita, menghancurkan desa-desa kita, menghancurkan ternak kita. Otak insinyur bekerja, saudara-saudara. Bagaimana?
Otak insinyur berkata, ini lahar, namanya lahar. Air mendidih yang dari puncak Kelud turun ke bawah. Lahar ini keluar dari telaga. Telaga ini mendidik dan meluap-luap karena kepanasan api yang keluar dari kawah Kelud. Jadi kalau umpamanya tidak ada telaga ini, tidak akan ada lahar. Pikirian insyinur begitu. Ini air ini harus dikeluarkan, harus dibuang, supaya kalau api keluar, dia tidak mendidih, dia tidak meluap-luap, dia tidak membikin celaka kepada manusia di lereng gunung itu.
Apa daya. Gambang buat insyinur. Insinyur membuat terowongan, dibor, saudara-saudara. Telaga itu tentu mempunyai, apa itu, mempunyai tebing-tebing, mempunyai wadah air itu, seperti periuk, saudara-saudara. Ini dibor, dibor dengan terowongan, bahasa asingnya canal. Sehingga lantas air ini keluar dari canal, terowongan ini, terbuang. Sehingga, telaga ini boleh dikatakan hampir kosong, tinggal sedikit.
Nah, ternyata di dalam tahun 1953, tatkala di dalam tahun 1953 itu buat kesekian kalinya Gunung Kelud meledak, api muncrat-muncrat, tetapi kaena telaga ini kosong atau hampir kosong, tidak terjadi lahar. Dan di dalam peledakan Gunung Kelud tahun 1953 itu hanya 7 orang manusia mati.
Dulunya, saya mengalami sendiri, tahun 1919, yang mati berapa? Satu kali lahar turun itu, 6.700 manusia, sekian ribu kerbau, sekian ribu sapi, sekian ribu kambing, sekian ribu rumah, hancur-lebur sama sekali, dan sekian ribu hektar sawah tidak bisa ditanami lagi. Karena sang sawah yang tadinya tanahnya tanah subur, sesudah dilanda oleh lahar itu, sang sawah ini kemudian tertutup pasir yang lebih tebal dari setengah meter.
Sekarang sesudah otak teknik mengebor telaga ini, saudara-saudara, bahaya lahar boleh dibilang hilang sama sekali. Nah, ini adalah salah satu perjuangan kita. Perjuangan kita menundukkan alam, alam, Gunung kelud, tidak menjadi bahaya lagi bagi kita.
Sumber: Revolusi Belum Selesai, Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965 - Pelengkap Nawaksara, 2005


