DJALOE.com - Denys Lombard, sejarahwan Perancis seperti sudah disinggung dalam posting sebelumnya, punya informasi menarik soal riwayat pemberontakan bernuansa agama dari lereng Gunung Kelud di Blitar.
Kali ini, tuan professor lewat buku Nusa Jawa II: Silang Budaya, Jaringan Asia, menyebutkan, tokoh pemberontak itu bernama Teja Laku. Ia menyebutnya seorang "agamawan". Agamanya apa? Tidak jelas.
Namun, jika merujuk pihak yang diberontaknya, Amangkurat II dari Kasunanan Surakarta yang Islam, jelas sekali Teja Laku bukan dari golongan Islam. Pemberontakan itu dikisahkan terjadi pada 1678.
Denys Lombard di halaman 345-346 menulis,
Pada tahun yang sama, agamawan lain, Teja Laku, turun dari Gunung Kelud tempatnya menyepi bersama keempat puluh muridnya, dan menyerang kubu Amangkurat II yang ditempatkan di depan Kediri. Setelah mengamuk dengan gagah berani, mereka semua terbunuh.
Hanya demikian informasi dari Denys Lombard soal Teja Laku. Kapan-kapan, kita cari tahu dari teks maupun lisan. Untuk sementara, silakan menikmati e-book tuan Denys. Roemah Djaloe juga mengoleksi tiga jilid buku ini, dan boleh dibaca siapapun zonder bayar.
Atau, jika ingin tahu kisah Amangkurat II, silakan merujuk ke Wikipedia. Ia, bapaknya, dan kakeknya adalah tokoh yang ganjil sekali, bahkan jika dilihat dari kacamata zaman ini.
DJALOE.com - Blitar ditegakkan sekitar abad ke-15 oleh Nilasuwarna atau Gusti Sudomo, anak dari Adipati Wilatika Tuban, orang kepercayaan Kerajaan Majapahit. Ini menurut sejarah versi Pemerintah Kota, mengacu buku Bale Latar.
Nilasuwarna, katanya, mengemban tugas dari Majapahit untuk menumpas pasukan Tartar yang bersembunyi di hutan selatan (Blitar dan sekitarnya).
Pasukan Tartar dari Mongolia ke Jawa semula untuk membalas diplomasi buruk Raja Kertanegara dari Singasari yang memotong kuping duta Mongol karena berpesan agar Singasari takluk di bawah Mongol.
Namun, ketika pasukan pembalas dendam tiba, Singasari di bawah Kertanegara sudah rontok oleh Prabu Jayakatwang. Raden Wijaya, menantu Raja Singasari, lantas memanfaatkan pasukan Tartar untuk menyerang Jayakatwang.
Raden Wijaya kelak jadi penegak Majapahit, dan patung perwujudannya yang indah, dipersembahkan di Canding Simping, Sumberjati, Blitar.
Nah, belakangan hari, balatentara Tartar dikabarkan mencoba kudeta terhadap Majapahit. Singkat cerita, Nilasuwarna pun berhasil mengalahkan pasukan Tartar di Blitar. Sebagai imbalan, Majapahit kasih hadiah Nilasuwarna berupa tanah swatantra yang independen di hutan selatan, Blitar.
Nilasuwarna kemudian juga dianugerahi gelar Adipati Arya Blitar I dengan daerah kekuasaan di hutan selatan. Kawasan hutan selatan inilah yang dalam perjalanannya kemudian dinamakan oleh Adipati Arya Blitar I sebagai Balitar (Bali Tartar).
Arya Blitar I menikah dengan Gutri atau Dewi Rayung Wulan, dan dianugerahi anak Joko Kandung. Namun, di tengah kepemimpinan Arya Blitar I, terjadi pemberontakan oleh Ki Sengguruh Kinareja, Patih Kadipaten Blitar.
Ki Sengguruh pun berhasil merebut kekuasaan dari tangan Adipati Arya Blitar I yang tewas. Selanjutnya, Sengguruh memimpin Kadipaten Blitar dengan gelar Adipati Arya Blitar II.
Selain itu, dia juga bermaksud menikahi Dewi Rayungwulan. Mengetahui ayah kandungnya dibunuh oleh Adipati Arya Blitar II, Joko Kandung pun menuntut balas.
Dia kudeta atas kekuasaan Arya Blitar II, dan berhasil. Joko Kandung kemudian dianugerahi gelar Adipati Arya Blitar III. Namun, Joko Kandung tidak pernah mau menerima tahta itu, kendati secara de facto dia tetap memimpin warga Kadipaten Blitar.
Masih menurut versi Pemerintah Kota Blitar, semasa Joko Kandung atau Adipati Arya Blitar III inilah, sekitar tahun 1723, Blitar di bawah Kerajaan Kartasura Hadiningrat pimpinan Raja Amangkurat, jatuh ke tangan Belanda.
Amangkurat pun menghadiahkan Blitar sebagai daerah kekuasaannya kepada Belanda. Itu setelah Belanda dianggap berjasa membantu Amangkurat dalam perang saudara termasuk perang melawan Arya Blitar III yang berupaya merebut kekuasaannya.
Blitar kemudian beralih ke genggaman kekuasaan Belanda, yang sekaligus mengakhiri eksistensi Kadipaten Blitar sebagai daerah perdikan.
Ada ketidaklogisan kronologis di sini. Pada abad ke-15, Arya Blitar I bertahta, artinya itu kekuasaan Majapahit sudah mulai uzur sebelum hancur oleh pergolakan dalam negeri, maupun intervensi misionaris Islam (sebagian Walisanga) lewat jalur politik yang kemudian memuncak pada tegaknya Kerajaan Demak yang Islam.
Padahal, dalam catatan sejarah, seluruh pasukan Tartar angkat jangkar dari pesisir utara Jawa sekitar Maret 1293 atau dalam abad ke-13. Lalu, mengapa pula sampai abad ke-15 masih diberitakan bahwa Nilasuwarna disuruh menumpas sisa-sisa pasukan Tartar di hutan Blitar selatan?
Anehnya lagi, anak kandung Arya Blitar I bernama Joko Kandung disebut masih hidup hingga Belanda datang tahun 1723 atau dalam abad ke-18. Mungkinkah Joko Kandung yang meskipun anak Arya Blitar I dari abad ke-15, bisa hidup selama sekurang-kurangnya dua abad? :)
DJALOE.com - Nusa Jawa: Silang Budaya adalah trilogi karangan sejarahwan dari Perancis, Denys Lombard. Ini sejenis buku babon soal sejarah Jawa yang banyak dicari peminat sejarah. Ia dicetak berulang-ulang oleh penerbitnya. Dari jilid pertama, Batas-batas Pembaratan, Denys Lombard sedikit menyinggung soal masa lalu Blitar.
Antara lain berikut ini:
Akan halnya harimau belang (lorek), harimau akar (macan tutul) atau harimau kumbang (macan kumbang) --binatang-binatang ini telah diburu dan dipojokkan secara sistematis sepanjang paro kedua abad ke-19 dan boleh dikatakan musnah secara ritual, dalam upacara-upacara besar (rampog) yang dihadiri oleh seluruh penduduk dan para pangeran serta pejabat. Ratusan orang besenjata lembing mengambil tempat di sekeliling alun-alun atau lapangan utama dan di tengah-tengah lapangan itu dilepaskan seekor atau beberapa ekor binatang bias yang akan dibunuh. Beberapa orang musafir bercerita tentang rampog yang pernah mereka saksikan dan foto-foto yang mencolok mengenai salah satu rampog itu masih tersimpan, yaitu yang berlangsung di Blitar pada tahun 1894, yang memperlihatkan pembunuhan terhadap seekor harimau belang dan tujuh ekor harimau kumbang.
Kutipan di atas berasal dari halaman 27 buku Denys Lombard. Jika berminat membaca seluruh buku tersebut, Roemah Djaloe mengoleksi lengkap 3 jilid sekaligus. Tetapi jika ingin baca sebagian, tersedia e-book-nya di bawah ini. Selamat membaca...
DJALOE.com - E-novel di bawah ini berkisah tentang petualangan Margaretha Zelle, perempuan ayu nan molek yang masyhur sebagai Mata Hari. Ia agen intelijen ganda, juga penghibur para tuan makmur.
Bertualang lama di Hindia Belanda, Mata Hari akhirnya meringkuk di sel sebuah bui di Paris, Perancis, pada Oktober 1917 yang dingin. Vonis mati sudah dijatuhkan. Regu tembak sudah disiapkan. Ini fiksi berbasis fakta. Jadi, gampangnya, setengah dusta setengah nyata. Berkat Tuan Wahyu dari Jogjakarta, e-novel ini bisa dibaca bersama. Terima kasih, dan selamat membaca.
DJALOE.com - Sejarah politik senantiasa menarik diikuti, meski tidak bagi semua orang. Naskah di bawah nanti adalah cerita soal bagaimana Adipati Blitar menegakkan kekuasaannya.
Namanya Raden Adipati Ario Adinegara, berkuasa antara 1851-1869. Ia memelihara para jago alias preman, para tauke, sampai para lurah dengan membantu mereka untuk mencurangi pemilihan langsung oleh rakyat.
Semua itu dijalankan buat memperkokoh bisnis pribadinya: peternakan ribuan sapi. Tali temali kekuasaan adipati dengan preman ini kemudian dibongkar oleh Agathon Coerier dit Dubecart, wartawan Soerabajasche Courant terbitan Surabaya.
Pokok perkaranya memang tak sempat diperiksa di muka hukum, namun ada teladan di situ. Si adipati mundur karena sorotan gencar atas laku korupnya itu. Ini teladan dari abad kemarin. Selamat membaca...
DJALOE.com - Sebuah situs purbakala yang jarang diketahui khalayak luas terdapat di Dusun Pesantren, Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, Jawa Timur.
Situs ini belum pernah diteliti serius, padahal cakupan luasnya diperkirakan mencapai 10-15 hektare. Ini berdasarkan sebaran artefak yang ditemukan di wilayah itu.
Thomas Raffles tak mampir ke lokasi yang oleh penduduk setempat biasa disebut situs Sawah Reco itu waktu ke Blitar sebelum 1815. Terletak di dekat sungai aliran lahar Gunung Kelud, situs itu mungkin sekali sudah lama terkubur oleh material vulkanik.
Kita tunggu saja pemerintah pusat maupun daerah mengungkap keagungan masa lalu bangsa kita di kampung Tanggung.
Mengoendang siapapoen oentoek batja2 zonder bajar atawa gratis atawa tjoema2 di Roemah Djaloe saban hari djam poekoel 08.00-16.00, ketjoewali hari Isnin kerna moesti toetoep. Chalajak loewas tidak perloe tak enak hati djika tak belandja kawos atawa matjam2 barang jang didjoewal di sini. :)